Rossy Pratiwi, Ratu Tenis Meja Indonesia Gemblengan Pelatih Korut

Ratu pingpong Indonesia Rossy Pratiwi Dipoyanti meminta tolong Presiden Jokowi menyatukan federasi tenis meja yaitu PP PTMSI yang terbelah.
Jakarta, CNN Indonesia

Nama Rossy Pratiwi Dipoyanti Syechbubakar mungkin tak akan pernah dikenal dunia tenis meja jika bukan karena didikan ‘super keras’ dari orang-orang di sekitar saya.

Ayah adalah pembuka jalan saya mencintai tenis meja. Hobinya bermain tenis meja di rumah bersama tetangga tanpa sengaja menular ke saya.

Semula saya sudah sering diajak nonton pertandingan mulai kelas 2 SD. Sekali waktu ketika kelas 4 SD, saya penasaran dan mengajak ayah main pingpong. Dia terkejut, kok malah saya yang ajak main pingpong duluan.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika mulai bermain, ayah saya kaget. Dia tak menyangka saya sudah cukup jago untuk ukuran pemula. Kata beliau, teknik saya seperti orang yang sudah sering main tenis meja. Saya juga enggak menyangka karena sebelumnya cuma jadi penonton saja.

Sejak saat itu, ayah saya intens mengajari teknik-teknik dasar tenis meja. Namun caranya melatih galak banget. Padahal dia tak pernah jadi atlet dan hanya sebatas hobi. Tapi caranya melatih benar-benar keras.

Saya tak pernah bisa lupakan momen ayah saya marah sampai-sampai tega melempar bet ke tembok. Memang tidak kena saya, tapi apa yang dia lakukan sempat bikin syok. Untungnya saya nurut dan tetap mau latihan malah diomeli begitu. Kalau anak zaman sekarang digituin, saya enggak tahu deh gimana ceritanya… Hahaha…

Kurang lebih setahun saya digembleng di rumah dan tanding lawan pemain-pemain kampung. Melihat potensi saya, ayah akhirnya mendaftarkan saya masuk klub Triple V (Veni Vidi Vici) Bandung mulai kelas 4 SD.

Setahun kemudian saya mewakili Triple V tampil di turnamen antarklub pingpong di Semarang. Saya berhasil juara dan dilirik Koh Empie dan Kak Diana Wuisan, legenda tenis meja Indonesia. Dia kemudian menawari saya gabung klub yang lebih serius, Sanjaya Gudang Garam di Kediri.




Legenda tenis meja Indonesia Rossy Pratiwi Dipoyanti. (Tangkapan Layar Instagram @rossy_oly)

Berkat dukungan ayah, saya berani meninggalkan tempat kelahiran saya, Bandung, di usia 10 tahun. Saya bulatkan tekad berangkat ke asrama Gudang Garam demi fokus ke tenis meja. Rutinitas sehari-hari hanya latihan pagi, sekolah siang, latihan sore, dan begitu seterusnya. Hanya dapat waktu libur di hari Minggu.

Di Kediri, saya mulai terjun di berbagai kompetisi nasional, termasuk di PON hingga ikut Asian Junior Championship di Nagoya, Jepang, pada 1986. Kami berlatih tiga bulan di Jepang.

Pulang ke Indonesia langsung juara di kompetisi junior maupun senior saya borong. Kemudian saya mulai masuk tim nasional di usia 13 tahun dan ikut ke Asian Games Seoul 1986. Setahun kemudian karier saya menanjak terus.

Jelang SEA Games 1987, saya dilatih langsung pelatih asal Korea Utara Kang Nung Ha. Latihan kerasnya minta ampun. Beruntung saya sudah terbiasa didik keras di Club Sanjaya Kediri dan dari rumah oleh ayah sendiri jadi bisa menerima cara pelatih Korea Utara itu.

Saya sadar pelatih Korut sayang sekali dengan saya. Tapi, saking sayangnya dia memberikan porsi latihan fisik lebih banyak dari atlet lain.

Contohnya, saat latihan biasanya pelatih menggelar game internal. Biasanya yang menang diizinkan istirahat tanpa lari keliling lapangan. Kalau Rossy yang menang enggak dihitung, tetap saja disuruh lari. Duh, luar biasa capek pokoknya.




Legenda tenis meja Indonesia Rossy Pratiwi Dipoyanti. (Tangkapan Layar Instagram @rossy_oly)Legenda tenis meja Indonesia Rossy Pratiwi Dipoyanti. (Tangkapan Layar Instagram @rossy_oly)

Bukan cuma latih fisik dan teknik, pelatih Korea itu juga pintar menggembleng mental pemain. Tapi dasarnya baik hati. Hanya metodenya saja yang berbeda ya, lebih keras dari rata-rata pelatih lokal. Tapi mungkin kalau enggak ketemu beliau, Rossy enggak akan jadi seperti sekarang.

Alhamdulillah, saat 15 tahun saya berhasil memborong dua emas dan dua perak di SEA Games 1987 Jakarta. Ini merupakan kejuaraan antarnegara ASEAN pertama yang saya ikuti.

Sejak saat itu saya tak pernah absen ikut SEA Games hingga 2001 dengan total 13 medali emas, 8 perak, dan 8 perunggu. Banyak pengalaman indah tak terlupakan yang saya temukan di sana.

Saya juga berkesempatan tampil di Olimpiade sebanyak dua edisi, pertama di Olimpiade Barcelona 1992 dan Atlanta 1996. Persaingan sangat berat saat itu dan saya belum mampu sumbang medali. Namun, tampil di Olimpiade adalah salah satu momen membanggakan dalam hidup saya.

Baca di halaman berikutnya>>>




Sumber: www.cnnindonesia.com