Jangan Dikotomikan Pemain Naturalisasi vs Lokal

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Yunus Nusi membeberkan alasan mengapa pertandingan Timnas Indonesia versus Brunei Darussalam digelar di Stadion Jakabaring.


Jakarta, CNN Indonesia

Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Arya Sinulingga meminta tak ada dikotomi lagi soal pemain naturalisasi dan pemain lokal.

Menurut Arya, setiap individu yang punya darah Indonesia, asal memenuhi syarat kualitas dan dibutuhkan, bisa membela Timnas. Arya tak ingin ada dikotomi soal pemain Timnas ini.

Yang dimaksud Arya dengan dikotomi adalah pemisahan antara pemain naturalisasi dan lokal. Saat sudah membela Timnas, semua pemain atas nama Merah Putih dan bukan hal lainnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Jadi jangan dikotomikan. Sepanjang Anda punya darah Indonesia, Anda berhak dan Anda ingin jadi warga negara Indonesia, dan Anda kebetulan pemain bagus, kenapa tidak?” kata Arya.

“Dan kembali lagi, apakah Timnas Inggris hanya mengambil dari Liga Inggris? Apakah Jerman hanya mengambil Liga Jerman? Apakah Korea hanya mengambil Liga Korea? Tidak,” ucapnya.

Terkait semakin gencarnya PSSI menaturalisasi pemain keturunan, itu semata memfasilitasi pemain berdarah Indonesia di luar negeri. Karena pemain itu punya kualitas, ia dipanggil.

“Anaknya ingin [bermain di Timnas Indonesia], orang Indonesia, masa mau dilarang? Jadi kita jangan juga menghilangkan potensi-potensi itu. Saya tidak mau kita dikotomikan,” kata Arya.

Namun demikian naturalisasi bukan jalan pintas untuk jangka pendek. PSSI dipastikan Arya tetap mengutamakan perbaikan kualitas kompetisi dan pembinaan di dalam negeri.

Salah satu target PSSI dalam periode kepengurusan Erick Thohir memiliki data jumlah pemain Timnas Indonesia lebih dari 100. Jumlah ini tentu saja diambil dari kompetisi, juga diaspora.

“Berapa pemain Timnas yang biasanya didaftarkan dan kita mainkan? 50 orang. Bagaimana kalau 50 orang dan kita punya kebebasan untuk memilih yang mana saja. Ini jangan lihat naturalisasi ya,” ucapnya.

“Tapi jadi enak tidak pelatihnya [kalau ada 50 pemain]? Lega tidak mereka? Ada cedera, ada yang kurang sedikit, kompetisinya semakin bagus tidak? Jadi lihat dari jumlah pemain kita di sini.”

[Gambas:Video CNN]

(abs/ptr)



Sumber: www.cnnindonesia.com